Grup Riset CRiMS Fakultas Teknik UNS Edukasi Lansia Menggunakan Kompor Induksi secara Aman melalui Program Clean Cooking for Elderly
Grup Riset CRiMS Fakultas Teknik UNS Edukasi Lansia Menggunakan Kompor Induksi secara Aman melalui Program Clean Cooking for Elderly
Grup Riset CRiMS Fakultas Teknik UNS Edukasi Lansia Menggunakan Kompor Induksi secara Aman melalui Program Clean Cooking for Elderly

Grup Riset CRiMS Fakultas Teknik UNS Edukasi Lansia Menggunakan Kompor Induksi secara Aman melalui Program Clean Cooking for Elderly

18 Jul 2026
Admin
Diperbarui: 18 Jul 2026

SURAKARTA – Grup Riset Center for Research in Manufacturing System (CRiMS), Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) (https://uns.ac.id/), melaksanakan kegiatan sosialisasi dan edukasi berbasis praktik bertajuk “Clean Cooking for Elderly” pada Rabu, 15 Juli 2026. Kegiatan yang bekerja sama dengan Elderly School of ‘Aisyiyah (ESA) Surakarta ini dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Retno Wulan Damayanti, S.T., M.T. selaku Ketua Tim Pengabdian.

Kegiatan dilaksanakan di Griya Joglo DNA (DNA Spot Cafe), Kadipiro, Banjarsari, Surakarta, dan diikuti oleh 33 peserta lansia serta dua kader atau caregiver pendamping. Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan rasa aman lansia dalam menggunakan kompor induksi sebagai salah satu teknologi memasak bersih.

Program tersebut dilatarbelakangi oleh masih rendahnya familiaritas lansia terhadap kompor induksi serta adanya risiko keselamatan dalam aktivitas memasak menggunakan kompor konvensional. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tim pengabdian CRiMS merancang kegiatan menggunakan pendekatan ramah lansia melalui penyampaian teori singkat, demonstrasi, praktik langsung, dan pengulangan langkah pengoperasian. Media pembelajaran disusun menggunakan huruf berukuran besar, warna kontras, kalimat singkat, dan ilustrasi visual agar lebih mudah dipahami oleh peserta.

Dalam pemaparannya, Prof. Retno menjelaskan bahwa kompor induksi dapat menjadi alternatif teknologi memasak yang lebih aman dan nyaman bagi lansia.

“Kompor induksi tidak menggunakan api terbuka dan tidak memerlukan gas. Panas dihasilkan langsung pada panci melalui medan magnet, sehingga risiko yang berkaitan dengan api dan kebocoran gas dapat dikurangi,” jelas Prof. Retno.

Materi pelatihan meliputi pengenalan prinsip kerja kompor induksi, pemilihan alat masak yang kompatibel, langkah pengoperasian dasar, pengaturan tingkat panas dan timer, prosedur mematikan kompor secara aman, serta pembersihan setelah digunakan. Peserta juga memperoleh penjelasan mengenai fitur keselamatan, seperti fungsi mati otomatis, penghentian pemanasan ketika panci diangkat, indikator panas sisa, dan kunci pengaman untuk mencegah tombol tertekan secara tidak sengaja.

Pada sesi pemilihan alat masak, peserta diperkenalkan dengan cara sederhana untuk mengetahui apakah panci dapat digunakan pada kompor induksi.

“Cara paling mudah adalah dengan menempelkan magnet pada dasar panci. Apabila magnet menempel, panci tersebut dapat digunakan pada kompor induksi. Apabila magnet tidak menempel, sebaiknya gunakan panci yang lain,” terang Prof. Retno.

Panci berbahan besi, baja, stainless steel tertentu, atau yang memiliki label “induction” umumnya dapat digunakan. Sementara itu, panci berbahan aluminium, kaca, keramik, dan tembaga tanpa lapisan khusus umumnya tidak kompatibel dengan kompor induksi.

Pada sesi praktik, peserta secara bergantian mencoba empat langkah dasar pengoperasian, yaitu meletakkan panci di tengah area pemanas, menekan tombol ON, mengatur tingkat panas, dan menekan tombol OFF setelah selesai digunakan.

“Pengoperasiannya dapat diingat melalui empat langkah sederhana: letakkan panci di tengah kompor, tekan tombol ON, atur tingkat panas sesuai kebutuhan, kemudian tekan OFF setelah selesai memasak,” ujar Prof. Retno saat mendampingi peserta.

Pendampingan dalam kelompok kecil membantu peserta mempraktikkan setiap langkah secara perlahan dan berulang. Peserta juga diingatkan untuk selalu memastikan tangan dalam keadaan kering, meletakkan panci tepat di tengah kompor, merapikan kabel agar tidak menjadi risiko tersandung, serta menunggu indikator panas sisa hilang sebelum menyentuh atau membersihkan permukaan kompor.

“Setelah memasak, jangan langsung menyentuh permukaan kompor. Tekan tombol OFF dan tunggu sampai tanda panas sisa hilang. Kompor juga harus dibersihkan setelah permukaannya benar-benar dingin,” pesan Prof. Retno.

Melalui program ini, Grup Riset CRiMS Fakultas Teknik UNS berupaya mengembangkan model edukasi teknologi memasak bersih yang aman, inklusif, dan sesuai dengan kebutuhan lansia. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung transisi energi serta memperluas akses teknologi clean cooking bagi kelompok rentan.

Program ini berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, SDG 10 tentang pengurangan kesenjangan, dan SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. 

#CleanCookingForElderly  #CRIMS  #FakultasTeknikUNS  #UniversitasSebelasMaret